0811113087
Harapan pada Sebuah Desa

Harapan pada Sebuah Desa

Inilah sebuah desa yang sementara ini masih dirahasiakan karena memiliki potensi yang sangat menjanjikan bagi budidaya lebah tanpa sengat. Di dalam desa ini tersimpan berbagai getah, pollen dan nektar yang beragam dengan vegetasi aren, durian, manggis, nangka, duku, kokosan, rambutan, pisang, kelapa, dll. Dengan introduksi beberapa jenis tanaman bunga selain menambah indah desa juga akan bisa menjamin ketersediaan nektar dan pollen sepanjang tahun.

Trigona pada Rumah Kayu Ciampea

Trigona pada Rumah Kayu Ciampea

Secercah cahaya yang menggembirakan

Demplot Rumah Kayu Ciampea

Sebuah Villa dengan luas lahan 2 hektar ternyata menjadi tempat yang ideal bagi lebah trigona lokal jenis Tetragonula laeviceps. Di berbagai sudut rumah seperti tiang, tembok, lubang pintu, dinding bebatuan, pepohonan telah menjadi sarang alaminya. Perkembangan demplot lebah jenis Tetragonula biroi yang dimiliki Stingless Bee Garden pun sangat menjanjikan, baru 10 hari saja berat kotor stup sudah bertambah 350 gram.

Potensi Lingkungan Perumahan Sebagai Pakan Budidaya Lebah Tanpa Sengat

Potensi Lingkungan Perumahan Sebagai Pakan Budidaya Lebah Tanpa Sengat

Ini adalah sebuah contoh perumahan yang bisa dijadikan lokasi budidaya lebah tanpa sengat di tengah kota sebagai urban bee – tentu jika warganya ingin memanfaatkan lingkungannya. Betapa tidak pepohonannya sudah matang karena banyak yang sudah berumur 20 tahun dengan vegetasi yang beraneka ragam terdiri dari (1) Penghasil resin (Pinus, damar, araucaria, cemara), (2) Penghasil nektar dan pollen (Akasia mangium, Eucalyptus, Antigonon, rerumputan liar, dll). Beberapa jenis tanaman bunga yang bisa menambah keindahan lingkungan dan sumber pakan lebah bisa ditambahkan. Sebuah potensi yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya lebah tanpa sengat yang aman dan bermanfaat bagi warganya untuk menghasilkan madu secara swadaya sekaligus sebagai ajang eduwisata yang berwawasan lingkungan bagi warganya. Tentu menambah nilai tersendiri bagi lingkungan tersebut.

Banyak lagi potensi di lingkungan perkotaan yang seperti ini untuk menjadikan lebah tanpa sengat sebagai urban bee.


Salah satu sudut yang bisa direkayasa dengan penanaman tanaman rambat penghasil nektar dan polen sepanjang tahun

Lokasi: Perumahan Telaga Golf Sawangan, Depok.

Analisa Usaha Budidaya Lebah Tanpa Sengat

Analisa Usaha Budidaya Lebah Tanpa Sengat




Budidaya lebah tanpa sengat sangat menjanjikan. Di dalam habitat yang tepat lebah tanpa sengat jenis Tetragonula biroi bisa dikembangbiakkan menjadi berkali lipat. Dalam satu tahun setiap koloni bisa dipecah menjadi 2-4 koloni. Artinya dalam setahun saja modal sudah bisa kembali jika koloninya dijual. Namun dalam analisa berikut kami berusaha menyajikan teknik budidaya yang lebih seimbang antara menghasilkan koloni, madu dan propolis

Berikut kami sajikan analisa dan simulasi usaha untuk skala 1 ha lahan dengan kepemilikan koloni awal 100 stup yang akan digandakan menjadi 400 stup koloni induk dalam waktu 2 tahun untuk menghasilkan 3 produk utama berupa (1) madu, (2) raw propolis dan (3) koloni anakan


PROGRAM BREEDING

Breeding atau program penggandaan koloni adalah kunci keberhasilan. Tanpa program penggandaan koloni maka budidaya lebah tanpa sengat tidak menjanjikan

Langkah awal investasi lebah tanpa sengat adalah program breeding, yaitu program penggandaan/pengembangbiakan/split anakan dimana setiap koloni lebah tanpa sengat akan digandakan setiap tahun masing-masing menjadi 2 koloni. Koloni hasil penggandaan sebagian dijadikan aset produksi dan sebagian lagi dijual untuk membiayai kegiatan budidaya sehingga dicapai arus kas yang seimbang. Pada tahun ke-3 dan seterusnya jumlah koloni induk dipertahankan sebagai aset produksi dibatasi sampai 400 koloni saja untuk 1 ha lahan. Dengan jumlah tersebut jika nilai produksi setiap koloni rata-rata 1 juta per tahun, maka nilai pendapatan kotor pertahun akan mencapai 400 juta/ha

MODAL AWAL

Berikut rincian investasi atau modal awal untuk skala usaha 1 ha yang dimulai dari 100 stup koloni Grade B lebah tanpa sengat jenis Tetragonula biroi , yakni total modal sebesar Rp. 253 Juta. 

Biaya tersebut terdiri dari biaya pembelian bibit koloni, pembuatan gubug  biaya sewa lahan, tenaga kerja, supervisi, pemeliharaan dll untuk jangka waktu 3 tahun. Biaya tahun selanjutnya berasal dari pendapatan, berupa penjualan madu, propolis dan koloni anakan

ARUS KAS (CASHFLOW)

Berikut arus kas keuangan budidaya lebah tanpa sengat dengan berdasarkan skema breeding di atas. Dari arus kas tersebut kita dapat menilai kelayakan usaha dari budidaya lebah tanpa sengat yang dapat disimpulkan SANGAT LAYAK. Hal ini bisa dilihat dari parameter IRR dan ROI yang tinggi

Beberapa catatan tambahan mengenai kelayakan investasi budidaya lebah tanpa sengat Trigona adalah sebagai berikut:

a. Modal/dana awal Investasi untuk 1 ha lahan Rp 253.000.000,-.  Keuntungan sudah bisa dinikmati sejak tahun pertama. Nilai keuntungan terus meningkat dari tahun ke tahun hingga mulai tahun ke-3 dan seterusnya  stabil pada kisaran 250-300 juta rupiah per tahun.

b. Investasi hanya sekali saja di awal tahun untuk biaya di tahun 1, 2 dan 3, selanjutnya pada tahun ke-4 dan seterusnya semua pengeluaran dibiayai oleh pendapatan tahunan

d. Perkiraan pengembalian modal (pay back) pada tahun ke-3

e. Setelah 10 tahun Stup masih tetap produktif dan jumlahnya bertambah menjadi 400 koloni siap produksi atau siap dijual kembali

f. Potensi pengembangbiakan stup/koloni menjadi 2-4 kali lipat setiap tahun masih bisa terus berlanjut

g. Budidaya lebah trigona tidak perlu perawatan rutin dengan biaya yang sangat murah serta bisa dikerjakan sebagai pekerjaan sampingan

h . Potensi pendapatan meningkat jika asumsi harga jual menggunakan harga pasaran umum, yaitu di atas Rp 250.000/kg (perhitungan saat ini harga jual Rp 140.000,-/kg)

BUDIDAYA LEBAH TANPA SENGAT – Sebuah Peluang Usaha

BUDIDAYA LEBAH TANPA SENGAT – Sebuah Peluang Usaha

BUDIDAYA LEBAH TRIGONA

Peluang Usaha dan Pengembangannya di Pedesaan

PENDAHULUAN 



Lebah Trigona
sp
adalah lebah kecil tanpa sengat (stingless
bee
) dari famili Meliponini penghasil
madu,  propolis dan beebread
atau roti lebah.  Lebah ini berbeda dengan lebah jenis lebah Apis yang berukuran tubuh jauh lebih
besar dan memiliki sengat. Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa lebah
Trigona memiliki daya adaptasi tertinggi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem
dibandingkan dengan lebah apis maupun lebah jenis lainnya.  Dalam kondisi
paceklik lebah Trigona tidak memerlukan pakan tambahan berupa gula atau cairan
buatan untuk kelangsungan koloninya serta tidak perlu digembala untuk mencari
nektar bunga atau buah tertentu. Oleh karena itu budidaya lebah Trigona
tergolong sangat mudah dan tidak memerlukan biaya yang tinggi dalam
pemeliharaanya.

Banyaknya manfaat madu bagi kesehatan, kecantikan dan lain-lain
menyebabkan permintaan pasar terhadap madu alam dan madu budidaya cukup tinggi.
Dalam hal harga jual,  madu trigona secara umum menempati posisi lebih
tinggi daripada madu lebah apis (baik hutan atau pun ternak),  yaitu 
bisa mencapai  2 sampai 5 kali lipatnya baik di pasaran lokal maupun
mancanegara. Oleh karena itu budidaya lebah trigona bisa menjadi alternatif
sumber pendapatan yang potensial untuk kesejahteraan masyarakat di pedesaan,
bahkan di perkotaan sekalipun. 



Lebah ini belum banyak dikenal dan belum banyak
dibudidayakan. Masyarakat pedesaan yang mengenalnya biasanya hanya sesekali
memanfaatkan madunya jika secara kebetulan menemukan sarang lebah Trigona dan
tidak membudidayakannya karena produksi madunya sangat sedikit.  Selain itu karena ketidaktahuan cara
mengembangbiakkannya. 

Saat  ini lebah Trigona sudah mulai dikenal lebih luas dan mulai
dilirik karena ternyata memiliki keunggulan, antara lain madunya lebih kaya
asam organik,  zat fitokimia dan asam glukonat dibandingkan madu lebah
apis umumnya sehingga dipercaya lebih berkhasiat . 

Selain itu ternyata lebah Trigona  menghasilkan propolis dalam
jumlah jauh lebih besar dari pada lebah apis.  Propolis atau lem lebah
sendiri adalah suatu zat resin yang dikumpulkan lebah dari sumber tumbuhan yang
memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia sehingga memiliki nilai ekonomis
yang cukup tinggi.  Bahkan sarang, 
pot madu dan pot polennya  adalah raw propolis yang memiliki harga yang cukup
menjanjikan jika dijual.

Dengan beberapa kelebihan di atas dan nilai ekonomis yang cukup
menjanjikan saat ini di beberapa daerah budidaya lebah Trigona sudah mulai
menggeliat dan mulai dilirik, baik dilakukan secara sambilan maupun serius. 
Di mancanegara seperti Malaysia,  Australia,  Mexico,  Cina dan
India budidaya lebah Trigona sudah lebih dulu dikembangkan sehingga boleh
dikata  Indonesia ketinggalan,  padahal spesies dan keragaman jenis
lebah Trigona di Indonesia cukup tinggi. 

Semangat melakukan budidaya lebah Trigona di Indonesia baru-baru semakin
meningkat dengan ditemukannya beberapa jenis lebah Trigona yang memiliki
keunggulan dalam produksi madu,  propolis dan roti lebah serta penemuan
stup budidaya susun tiga secara vertikal buatan Paimin di Sulawesi Selatan yang
sangat memudahkan panen madu propolis dan rotilebahnya.

II.   
PENGENALAN LEBAH TRIGONA SP

A.    Klasifikasi

Trigona sp adalah salah satu nama genus lebah madu dari famili
Meliponini. Adapun taksonomi lebah madu Trigona sp adalah sebagai berikut :

Kingdom     : Hymenoptera

Klas           : Apidae

Ordo          : Apinae

Famili         : Meliponini

Genus         : Trigona

Spesies       : Trigona clypearis
Friese, 1908, Heterotrigona itama, Tetragonula biroi,dll

B.    Ciri-ciri Morfologi

Lebah trigona berwarna hitam dan berukuran kecil, dengan panjang tubuh
antara 3-4 mm, serta rentang sayap 8 mm. Lebah pekerja memiliki kepala besar
dan rahang panjang. Sedang lebah ratu berukuran 3-4 kali ukuran lebah pekerja,
perut besar mirip laron, berwarna kecoklatan dan mempunyai sayap pendek. Lebah
ini tidak mempunyai sengat (stingless bee).

Dalam kehidupan dan perkembangannya lebah sangat dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, meliputi suhu, kelembaban udara, curah hujan dan ketinggian tempat.
Disamping itu ketersedian pakan sangat menentukan keberhasilan budidaya lebah
trigona.

III. TEKNIK BUDIDAYA

  1. Persiapan

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam budidaya lebah Trigona
diperlukan langkah pendahuluan atau persiapan yang matang meliputi:

1. Survey lokasi:  kesesuaian
habitat hidup, kondisi sosial ekonomi masyarakat, keamanan, sumber air,
topografi dan tanaman eksisting pada lokasi.

2.  Nursery: Pembibitan tanaman
unggulan untuk menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun kombinasi tanaman
semusim dan tahunan.

3.  Saung Stup:  Saung tempat meletakkan stup atau koloni
harus terlindung dari hujan dan terik matahari secara langsung.  Dalam hal ini kami sengaja merancang saung
terpadu yang dikelilingi tanaman rambat pakan dan dipagar dengan besi wiremesh untuk
menghindari pencurian atau gangguan tangan-tangan jahil yang kerap terjadi.
Dudukan atau rak stup dibuat untuk kapasitas populasi 40 koloni dengan kaki rak
berada di tengah air atau bak untuk perlindungan terhadap musuh alami berupa
hama semut yang mengincar madu

4.  Jika lokasi budidaya bukan di alam bebas seperti lahan pedesaan atau pinggiran hutan yang memang sudah banyak tumbuh tanaman pakan lebah maka perlu rekayasa kebun bunga yang dapat memenuhi kebutuhan hidup lebah tanpa sengat trigona.

Dibutuhkan kebun yang penuh dengan bunga seluas minimal 500 m2 (ideal 1000 m2) untuk 1 gubug yang berisi sekitar 40-50 koloni lebah.  Tumbuhan yang ditanam harus terdiri dari tanaman pakan penghasil getah, nektar dan pollen.  Kebun ini harus sudah siap sebelum mendatangkan koloni Trigona karena setiap hari lebah pekerja akan mencari sumber pakan untuk keperluan koloninya.  Setiap koloni memiliki jadwal perbanyakan 1 sampai tiga kali setiap  tahun  sehingga kebun bunga direncanakan akan berkembang dan bertambah luas sesuai dengan pertambahan jumlah koloni Trigona

B.    Pembuatan Stup

Struktur stup lebah Trigona sp berbeda dengan stup lebah lainnya.
Ruangan dalam stup lebah trigona tidak bersekat-sekat. Namun lebah Trigona sp
menempatkan telur, madu, propolis dan beebread secara terpisah.

Stup lebah Trigona sp sebaiknya menggunakan kayu yang berserat halus.
Hingga saat ini belum ada ukuran standard dari stup trigona. Stup Trigona sp
bisa digantung ataupun disusun pada rak dan diletakkan di tempat teduh/ tidak
terkena matahari langsung.

Biasanya masyarakat menggunakan stup horizontal berukuran 20 x 10 X 30 cm, namun untuk species Tetragonula biroi kita akan menggunakan log kayu atau stup buatan yang berbentuk vertikal buatan Paimin yang mengadopsi struktur batang pohon yang biasa ditempati lebah tersebut di alam. Stup ini memiliki 3 ruangan yang dapat dipisahkan masing-masing bagiannya sehingga memudahkan pemanenannya. Atau bentuk stup modifikasi lainnya.

 C.    Pemindahan Koloni

Pemindahan koloni dari alam ke dalam stup atau dari satu stup ke stup
lainnya merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan dan dilakukan
secara hati-hati.  Sebagian masyarakat
melakukannya pada malam hari setelah semua koloni kembali ke sarang atau
dinihari ketika koloni belum mencari pakan..

Secara teknik, pemindahan koloni lebih mudah dengan cara memindahkan
ratunya terlebih dahulu, ketika ratunya sudah dipindahkan secara otomatis
angota koloni akan mengikuti ratu berpindah tempat. Setelah semua koloni
berpindah, stup yang baru didiamkan 1-2 bulan agar koloni dapat beradaptasi
dengan lingkungan yang baru.

Setiap koloni terdiri dari ratu, lebah pekerja dan lebah jantan. Lebah
ratu merupakan satu-satunya lebah petelur seumur hidup dalam satu koloni. Lebah
pekerja adalah lebah betina yang organ reproduksinya tidak berfungsi sempurna/
tidak subur. Lebah pekerja mengeluarkan lilin yang digunakan untuk membangun,
membersihkan dan memelihara sarang, menjaga sarang, menyediakan makanan,
terdiri dari madu dan tepung sari.

Masa kerja lebah pekerja selama 60 hari, sejak usia 1 minggu lebah
pekerja mulai bekerja membersihkan lubang sel bekas huniannya tatkala ia masih
menjadi larva. Usia 2 minggu lebah pekerja membuat royal jelly. Usia 3 minggu,
membuat sel-sel dalam sarang. Usia 4 minggu mengikuti lebah pekerja dewasa
mencari makan di luar sarang. Usia 5 minggu lebah pekerja mencari makan untuk
memenuhi kebutuhan hidup koloni.

Beberapa bentuk dan susunan broodcell atau sel telur lebah trigona


Susunan Utama Sarang Lebah Tanpa sengat tdd : Sel telur, kantung Madu dan Kantung Beebread/pollen/roti lebah

Stup tersusun atas beberapa bagian. Setiap bagian digunakan untuk
menyimpan madu, tepung sari, tempat bertelur dan tempat larva. Di bagian tengah
terdapat karangan-karangan bola berisi telur, tempayak, dan kepongpong. Di
bagian sudut terdapat bola-bola agak kehitam-hitaman untuk menyimpan madu dan
tepung.

D.  Perbanyakan atau Pengembangbiakan

Perbanyakan atau pengembangbiakan koloni lebah agar bertambah banyak
merupakan salah satu kunci keberhasilan budidaya lebah Trigona dengan tujuan
untuk mendapatkan produktivitas madu 
secara ekstensif melalui pertambahan jumlah koloni atau untuk dibagikan
kepada peternak atau kelompok tani lainnya. 
Bahkan hasil perbanyakan koloni jika dijual bisa menjadi tambahan
pendapatan yang bisa menyaingi hasil jual dari madu dan propolisnya.

Perbanyakan koloni ini sangat mudah karena prinsipnya hanya memindahkan
atau membagi brood atau telur yang ada dalam sarang induk menjadi dua ke
sarang/stup baru yang sudah disiapkan sebelumnya.  Dan uniknya pembagian brood ini bisa tanpa
perlu memperhatikan ada atau tidaknya ratu atau telur calon ratu ke dalam stup
baru karena secara alami lebah pekerja akan merekayasa salah satu telur yang
dirawatnya akan menjadi telur ratu. 
Idealnya jika di dalam sarang ada lebih dari satu ratu maka ratu yang
lain harus segera dipisahkan agar tidak dimangsa oleh ratu induknya.

Alat yang dibutuhkan adalah stup baru, pisau kikis dan alkohol 70%.  Setelah pemindahan brood dilakukan tandai
pintu masuk dan beberapa ruangan di dalam stup baru dengan menempelkan propolis
dari sarang induknya sebagai alat pengenal atau identifikasi koloni bagi lebah
yang baru pulang dari ladang. 
Selanjutnya letakkan sebagian beebread dan madu ke dalam stup baru untuk
pakan sementara. Langkah terakhir pisahkan stup induk ke lokasi yang berjauhan dari
lokasi asalnya agar koloni yang telah terpisah tidak bercampur kembali dalam
satu sarang

Perbanyakan atau pengembangbiakan bisa dilakukan setiap tahun tetapi
idealnya dilakukan 2 tahun sekali sehingga setiap 1 sampai 2 tahun jumlah
koloni bertambah menjadi dua kali lipat. 
Adanya efek penggandaan ini menyebabkan produktivitas lebah akan
bertambah berkali lipat sesuai dengan laju pertambahan koloni.  Bahkan beberapa peternak lebih memilih usaha
pembibitan daripada menjual madu dikarenakan harganya bersaing dengan harga
madu dan propolis yang dihasilkan selama 1 tahun oleh setiap stup/koloni.

E.    Pemeliharaan

Pemeliharaan stup sebaiknya dilakukan secara rutin dan periodik,
meliputi pembersihan dari sarang semut/ laba-laba, pengecekan kondisi stup agar
terkena air hujan. Stup juga harus dihindarkan dari hama pengganggu (cecak,
tokek, larva kumbang, tawon kuning, ayam dan lain-lain).

F.    Pemanenan

Pemanenan madu maupun propolis dilakukan 1-3 kali setahun tergantung
kondisi lingkungan, pakan, besar kecilnya stup dan kesehatan koloni. Pemanenan
umumnya dilakukan dengan cara tradisional, yaitu menggunakan pisau kikis.

Madu dan propolis yang sudah dipanen diletakan dimangkuk untuk dilakukan
penirisan. Penirisan madu dilakukan agar madu tetap steril dengan tidak terlalu
banyak kontak dengan tangan.

IV.    PENGELOLAAN
PASCA PANEN

A.    Penurunan Kadar Air

Kualitas madu sangat dipengaruhi oleh kadar air di dalamnya. Semakin
rendah kadar air dalam madu semakin tinggi kualitas madu yang bersangkutan.  Kadar air ideal dalam madu berkisar antara
19-22 %.  Untuk menurunkan kadar air
menggunakan alat dehumidifier atau mesin evapotranspirator.

B.    Pengemasan

Pengemasan madu biasanya mengunakan botol kaca atau botol plastik.
Kemasan sebaiknya diberikan informasi yang memadai berkaitan petunjuk
penggunaan madu, kode produksi, tanggal kadaluarsa, ijin Industri Rumah Tangga
dan lain-lain.

V.    ANALISA
USAHA

VI.  POLA PENGEMBANGAN DI PEDESAAN

Budidaya Trigona bisa dilakukan secara individu dalam masyarakat baik di
daerah perkotaan yang masih memiliki taman maupun pedesaan atau pinggiran hutan
dengan pola pertanian organik yang tidak melibatkan penggunaan pestisida yang
dapat mengancam kehidupan lebah Trigona.

Untuk wilayah pedesaan budidaya lebah trigona akan sangat bagus jika
dikembangkan secara bersama dalam anggota masyarakat melalui kelompok tani,
dimana di dalamnya setiap anggota bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman,
mengadakan pelatihan bersama, mendatangkan para ahli atau penyuluh
berpengalaman serta menjual produk dengan harga yang pantas.

Contoh kabupaten yang
telah berhasil mengembangkan budidaya lebah trigona dengan jumlah stup lebih
dari 6000 koloni adalah Kabupaten  Luwu
Utara dengan kelompok tani bernama Fokup Lutra dengan ketuanya Bapak Paimin
Ponijan.  Dengan dukungan dari pemerintah
setempat budidaya lebah trigona di daerah tersebut berkembang dengan pesat,
terutama di tiga kecamatan yang menjadi pusat budidaya lebah trigona , yaitu kecamatan
Baebunta, Kecamatan Mappedeceng dan Malangke. 
Kelompok tani lebah madu trigona di kecamatan Baebunta bahkan pernah
masuk nominasi ajang Adhikarya Pangan Nusantara beberapa waktu lalu.

Dengan kondisi alam yang masih bersih ditambah keanekaragaman hayati
yang tinggi, madu lebah Trigona Kabupaten Luwu Utara sudah diakui oleh para
akademisi sebagai salah satu lebah Trigona yang terbaik di Nusantara.

Saat ini Kelompok tani di Kabupaten Luwu Utara kewalahan memenuhi
permintaan madu dan raw propolis dalam negeri. 
Dengan terbukanya pasar global sangat memungkinkan pembeli dari luar
negeri datang ke daerah tersebut. 
Tercatat beberapa pembeli dari Jepang, Filipina dan Malaysia sudah mulai
menjajaki kerjasama dan membeli secara langsung ke lokasi.

Kelompok Tani Budidaya Lebah Madu Trigona di
Luwu Utara, Sulsel

Dukungan Pemerintah dan instansi terkait sangat
penting dalam pengembangan budidaya Trigona

VII.  PENUTUP

Potensi lebah Trigona sp
jenis unggul di wilayah nusantara  cukup
besar dan menjadi peluang bagi masyarakat/ kelompok tani untuk mengembangkan
lebah ini untuk menggerakkan roda ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan
penduduk di pedesaan

 

Investasi Lebah Tanpa Sengat

Investasi Lebah Tanpa Sengat

Investasi sekali untuk seumur hidup berupa kepemilikan koloni lebah tanpa sengat dengan tingkat pengembalian modal (ROI) makin meningkat setiap tahun karena efek duplikasi koloni (breeding/pembiakan) mulai dari 8%, 19%, 81% hingga 400% atau bahkan lebih di tahun ke lima dst. Tingkat pengembalian modal bisa di tahun ke 1, 2, 3, 4, 5 tergantung tujuan usaha dan kecepatan duplikasi anakan.

 Peluang bisnis dalam budida0ya lebah tanpa sengat masih terbuka lebar mengingat masih sedikit pelaku usahanya, harganya yang masih mahal dan kualitas madu, propolis dan beebreadnya yang lebih unggul dari produk lebah jenis Apis yang sudah biasa dikenal.  Bahkan produk propolis sangat identik dengan lebah tanpa sengat.  Bayangkan seluruh sarangnya saja terbuat dari bahan resin pembentuk propolis yang bernilai tinggi untuk kesehatan dan pengobatan berbagai penyakit.  Produk lebah tanpa sengat juga sudah populer di mancanegara seperti Malaysia yang mengenalnya dengan nama lebah kelulut (nama ini juga popoler di pulau Kalimantan), Australia dengan nama populer Native Bee, Amerika latin dengan nama populer meliponini, India, Asia Tenggara,  Cina, dll.  Umumnya harga madu lebah tanpa sengat di luar negeri sangat tinggi harganya.  Sayang di Indonesia masih kalah populer, padahal potensi pasarnya sangat besar untuk dikembangkan.

Setiap hektar lahan yang bervegetasi sesuai kebutuhan hidup lebah bisa menghasilkan madu 1-1.5 ton per tahun. Harga madu lebah tanpa sengat di pasaran Indonesia sekitar 250 – 400 rb per kg.  Belum termasuk sampingan penjualan propolis mentah hasil perasan madu dan penjualan bibit koloni.

 Rendahnya jumlah pelaku usaha atau peternak lebah tanpa sengat di Indonesia disebabkan masih sedikitnya informasi teknik budidaya yang tepat dan produktivitasnya dalam menghasilkan madu sangat rendah dibandingkan lebah jenis bersengat sehingga tidak menarik untuk dibudidayakan dalam skala usaha. Para peternak yang adapun sebagian besar hanya untuk hobby dan memenuhi kebutuhan madu untuk sekitarnya saja.

 Namun dengan makin tersebarnya teknik budidaya, cara perbanyakan koloni dan makin dikenalnya beberapa jenis unggul endemik Indonesia yang dapat menghasilkan madu dan propolis dalam jumlah jauh lebih banyak maka peluang usaha dalam budidaya lebah tanpa sengat menjadi sangat terbuka.  Apalagi propolis lebah tanpa sengat Indonesia yang berasal dari hutan memiliki keunggulan yang tidak dimiliki propolis dari lebah jenis lain karena kandungan fitokimianya yang beragam dan unik.

 

Peluang di Pedesaan

 Sumberdaya alam nusantara yang melimpah berupa vegetasi tumbuhan yang beraneka ragam sangat cocok bagi kehidupan koloni lebah tanpa sengat trigona (kelulut, kelanceng, teuweul, gala-gala).  Hal ini ditunjukkan dengan ditemukannya berbagai jenis lebah tanpa sengat di seluruh Indonesia yang tersebar di setiap pulau.  Dari 200 jenis yang ada di dunia tercatat minimal 40 species lebah  tanpa sengat yang hidup di wilayah nusantara.  Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam vegetasi tumbuhan dan komposisinya di samping variasi jenis lebahnya sehingga hasil madu dan propolisnya memiliki keunikan tersendiri. 

 Melimpahnya sumber pakan lebah tanpa sengat di pedesaan, terutama wilayah yang berhubungan dengan pinggiran hutan membuka peluang usaha tersendiri bagi masyarakat  untuk meningkatkan pendapatan melalui budidaya lebah tanpa sengat.trigona ini.  Apalagi budidaya lebah tanpa sengat sangat mudah , yakni tinggal:   LETAKKAN – BIARKAN – PANEN  , yaitu letakkan koloni lebah di tempat yang aman di habitat yang tepat lalu biarkan dalam dalam jangka 1-3 bulan  tentunya dengan sedikit pengawasan, selanjunya jika madu sudah penuh dengan ditandai bertambah beratnya kotak atau stup maka madu dan propolis sudah bisa dipanen.

  

Budidaya di Perkotaan Sebagai Urban Bee

 Budidaya trigona atau lebah tanpa sengat juga bisa dilakukan di daerah perkotaan yang masih memiliki taman atau vegetasi yang dapat menunjang kehidupan koloni lebah tanpa sengat.  Apalagi mengingat sangat mudahnya lebah tanpa sengat beradaptasi terhadap lingkungan baru di daerah tropis seperti Indonesia.  Dalam hal ini peternakan lebah tanpa sengat milik Dr Mahani, SP, MSi di Urban Bee Teuweul Bogor dapat menjadi contoh yang baik dengan produktivitas koloni Tetragonula biroi minimal 4 kg madu per tahun.  Prinsipnya adalah adanya tumbuhan bergetah dan tersedianya bunga-bungaan atau tanaman penghasil nektar dan pollen.  Dan hal itu sangat mudah direkayasa.  Sebuah pohon mangga di halaman rumah dan beberapa jenis bunga di taman sudah cukup memberi kehidupan sebuah koloni lebah tanpa sengat.

 

Yuk, ikuti program kami untuk memelihara dan melestarikan lebah tanpa sengat.  Kami siap melakukan edukasi, konsultasi dan pendampingan secara GRATIS.  Langkah pertama adalah survey  kebun anda kemudian kami akan analisa kesesuaian vegetasi dan habitat lebah kemudian menyarankan perbaikan apa saja yang diperlukan agar lebah menjadi betah serta berproduksi maksimal

Silahkan Klik Analisa dan Simulasi usaha lebah tanpa sengat berikut: