0811113087

BUDIDAYA LEBAH TRIGONA

Peluang Usaha dan Pengembangannya di Pedesaan

PENDAHULUAN 

Lebah Trigona sp adalah lebah kecil tanpa sengat (stingless bee) dari famili Meliponini penghasil madu,  propolis dan beebread atau roti lebah.  Lebah ini berbeda dengan lebah jenis lebah Apis yang berukuran tubuh jauh lebih besar dan memiliki sengat. Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa lebah Trigona memiliki daya adaptasi tertinggi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem dibandingkan dengan lebah apis maupun lebah jenis lainnya.  Dalam kondisi paceklik lebah Trigona tidak memerlukan pakan tambahan berupa gula atau cairan buatan untuk kelangsungan koloninya serta tidak perlu digembala untuk mencari nektar bunga atau buah tertentu. Oleh karena itu budidaya lebah Trigona tergolong sangat mudah dan tidak memerlukan biaya yang tinggi dalam pemeliharaanya.

Banyaknya manfaat madu bagi kesehatan, kecantikan dan lain-lain menyebabkan permintaan pasar terhadap madu alam dan madu budidaya cukup tinggi. Dalam hal harga jual,  madu trigona secara umum menempati posisi lebih tinggi daripada madu lebah apis (baik hutan atau pun ternak),  yaitu  bisa mencapai  2 sampai 5 kali lipatnya baik di pasaran lokal maupun mancanegara. Oleh karena itu budidaya lebah trigona bisa menjadi alternatif sumber pendapatan yang potensial untuk kesejahteraan masyarakat di pedesaan, bahkan di perkotaan sekalipun. 

Lebah ini belum banyak dikenal dan belum banyak dibudidayakan. Masyarakat pedesaan yang mengenalnya biasanya hanya sesekali memanfaatkan madunya jika secara kebetulan menemukan sarang lebah Trigona dan tidak membudidayakannya karena produksi madunya sangat sedikit.  Selain itu karena ketidaktahuan cara mengembangbiakkannya. 

Saat  ini lebah Trigona sudah mulai dikenal lebih luas dan mulai dilirik karena ternyata memiliki keunggulan, antara lain madunya lebih kaya asam organik,  zat fitokimia dan asam glukonat dibandingkan madu lebah apis umumnya sehingga dipercaya lebih berkhasiat . 

Selain itu ternyata lebah Trigona  menghasilkan propolis dalam jumlah jauh lebih besar dari pada lebah apis.  Propolis atau lem lebah sendiri adalah suatu zat resin yang dikumpulkan lebah dari sumber tumbuhan yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia sehingga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.  Bahkan sarang,  pot madu dan pot polennya  adalah raw propolis yang memiliki harga yang cukup menjanjikan jika dijual.

Dengan beberapa kelebihan di atas dan nilai ekonomis yang cukup menjanjikan saat ini di beberapa daerah budidaya lebah Trigona sudah mulai menggeliat dan mulai dilirik, baik dilakukan secara sambilan maupun serius.  Di mancanegara seperti Malaysia,  Australia,  Mexico,  Cina dan India budidaya lebah Trigona sudah lebih dulu dikembangkan sehingga boleh dikata  Indonesia ketinggalan,  padahal spesies dan keragaman jenis lebah Trigona di Indonesia cukup tinggi. 

Semangat melakukan budidaya lebah Trigona di Indonesia baru-baru semakin meningkat dengan ditemukannya beberapa jenis lebah Trigona yang memiliki keunggulan dalam produksi madu,  propolis dan roti lebah serta penemuan stup budidaya susun tiga secara vertikal buatan Paimin di Sulawesi Selatan yang sangat memudahkan panen madu propolis dan rotilebahnya.

II.    PENGENALAN LEBAH TRIGONA SP

A.    Klasifikasi

Trigona sp adalah salah satu nama genus lebah madu dari famili Meliponini. Adapun taksonomi lebah madu Trigona sp adalah sebagai berikut :

Kingdom     : Hymenoptera

Klas           : Apidae

Ordo          : Apinae

Famili         : Meliponini

Genus         : Trigona

Spesies       : Trigona clypearis Friese, 1908, Heterotrigona itama, Tetragonula biroi,dll

B.    Ciri-ciri Morfologi

Lebah trigona berwarna hitam dan berukuran kecil, dengan panjang tubuh antara 3-4 mm, serta rentang sayap 8 mm. Lebah pekerja memiliki kepala besar dan rahang panjang. Sedang lebah ratu berukuran 3-4 kali ukuran lebah pekerja, perut besar mirip laron, berwarna kecoklatan dan mempunyai sayap pendek. Lebah ini tidak mempunyai sengat (stingless bee).

Dalam kehidupan dan perkembangannya lebah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, meliputi suhu, kelembaban udara, curah hujan dan ketinggian tempat. Disamping itu ketersedian pakan sangat menentukan keberhasilan budidaya lebah trigona.

III. TEKNIK BUDIDAYA

  1. Persiapan

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam budidaya lebah Trigona diperlukan langkah pendahuluan atau persiapan yang matang meliputi:

1. Survey lokasi:  kesesuaian habitat hidup, kondisi sosial ekonomi masyarakat, keamanan, sumber air, topografi dan tanaman eksisting pada lokasi.

2.  Nursery: Pembibitan tanaman unggulan untuk menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun kombinasi tanaman semusim dan tahunan.

3.  Saung Stup:  Saung tempat meletakkan stup atau koloni harus terlindung dari hujan dan terik matahari secara langsung.  Dalam hal ini kami sengaja merancang saung terpadu yang dikelilingi tanaman rambat pakan dan dipagar dengan besi wiremesh untuk menghindari pencurian atau gangguan tangan-tangan jahil yang kerap terjadi. Dudukan atau rak stup dibuat untuk kapasitas populasi 40 koloni dengan kaki rak berada di tengah air atau bak untuk perlindungan terhadap musuh alami berupa hama semut yang mengincar madu

4.  Jika lokasi budidaya bukan di alam bebas seperti lahan pedesaan atau pinggiran hutan yang memang sudah banyak tumbuh tanaman pakan lebah maka perlu rekayasa kebun bunga yang dapat memenuhi kebutuhan hidup lebah tanpa sengat trigona.

Dibutuhkan kebun yang penuh dengan bunga seluas minimal 250 m2 (ideal 500 m2) untuk 1 gubug yang berisi sekitar 40 koloni lebah.  Tumbuhan yang ditanam harus terdiri dari tanaman pakan penghasil getah, nektar dan pollen.  Kebun ini harus sudah siap sebelum mendatangkan koloni Trigona karena setiap hari lebah pekerja akan mencari sumber pakan untuk keperluan koloninya.  Setiap koloni memiliki jadwal perbanyakan setiap 2 tahun sekali sehingga kebun bunga direncanakan akan berkembang dan bertambah luas sesuai dengan pertambahan jumlah koloni Trigona

B.    Pembuatan Stup

Struktur stup lebah Trigona sp berbeda dengan stup lebah lainnya. Ruangan dalam stup lebah trigona tidak bersekat-sekat. Namun lebah Trigona sp menempatkan telur, madu, propolis dan beebread secara terpisah.

Stup lebah Trigona sp sebaiknya menggunakan kayu yang berserat halus. Hingga saat ini belum ada ukuran standard dari stup trigona. Stup Trigona sp bisa digantung ataupun disusun pada rak dan diletakkan di tempat teduh/ tidak terkena matahari langsung.

Biasanya masyarakat menggunakan stup horizontal berukuran 20 x 10 X 30 cm, namun untuk species Tetragonula biroi kita akan menggunakan log kayu atau stup buatan yang berbentuk vertikal buatan Paimin yang mengadopsi struktur batang pohon yang biasa ditempati lebah tersebut di alam. Stup ini memiliki 3 ruangan yang dapat dipisahkan masing-masing bagiannya sehingga memudahkan pemanenannya. Atau bentuk stup modifikasi lainnya.

 C.    Pemindahan Koloni

Pemindahan koloni dari alam ke dalam stup atau dari satu stup ke stup lainnya merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan dan dilakukan secara hati-hati.  Sebagian masyarakat melakukannya pada malam hari setelah semua koloni kembali ke sarang atau dinihari ketika koloni belum mencari pakan..

Secara teknik, pemindahan koloni lebih mudah dengan cara memindahkan ratunya terlebih dahulu, ketika ratunya sudah dipindahkan secara otomatis angota koloni akan mengikuti ratu berpindah tempat. Setelah semua koloni berpindah, stup yang baru didiamkan 1-2 bulan agar koloni dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Setiap koloni terdiri dari ratu, lebah pekerja dan lebah jantan. Lebah ratu merupakan satu-satunya lebah petelur seumur hidup dalam satu koloni. Lebah pekerja adalah lebah betina yang organ reproduksinya tidak berfungsi sempurna/ tidak subur. Lebah pekerja mengeluarkan lilin yang digunakan untuk membangun, membersihkan dan memelihara sarang, menjaga sarang, menyediakan makanan, terdiri dari madu dan tepung sari.

Masa kerja lebah pekerja selama 60 hari, sejak usia 1 minggu lebah pekerja mulai bekerja membersihkan lubang sel bekas huniannya tatkala ia masih menjadi larva. Usia 2 minggu lebah pekerja membuat royal jelly. Usia 3 minggu, membuat sel-sel dalam sarang. Usia 4 minggu mengikuti lebah pekerja dewasa mencari makan di luar sarang. Usia 5 minggu lebah pekerja mencari makan untuk memenuhi kebutuhan hidup koloni.

Beberapa bentuk dan susunan broodcell atau sel telur lebah trigona

Susunan Utama Sarang Lebah Tanpa sengat tdd : Sel telur, kantung Madu dan Kantung Beebread/pollen/roti lebah

Stup tersusun atas beberapa bagian. Setiap bagian digunakan untuk menyimpan madu, tepung sari, tempat bertelur dan tempat larva. Di bagian tengah terdapat karangan-karangan bola berisi telur, tempayak, dan kepongpong. Di bagian sudut terdapat bola-bola agak kehitam-hitaman untuk menyimpan madu dan tepung.

D.  Perbanyakan atau Pengembangbiakan

Perbanyakan atau pengembangbiakan koloni lebah agar bertambah banyak merupakan salah satu kunci keberhasilan budidaya lebah Trigona dengan tujuan untuk mendapatkan produktivitas madu  secara ekstensif melalui pertambahan jumlah koloni atau untuk dibagikan kepada peternak atau kelompok tani lainnya.  Bahkan hasil perbanyakan koloni jika dijual bisa menjadi tambahan pendapatan yang bisa menyaingi hasil jual dari madu dan propolisnya.

Perbanyakan koloni ini sangat mudah karena prinsipnya hanya memindahkan atau membagi brood atau telur yang ada dalam sarang induk menjadi dua ke sarang/stup baru yang sudah disiapkan sebelumnya.  Dan uniknya pembagian brood ini bisa tanpa perlu memperhatikan ada atau tidaknya ratu atau telur calon ratu ke dalam stup baru karena secara alami lebah pekerja akan merekayasa salah satu telur yang dirawatnya akan menjadi telur ratu.  Idealnya jika di dalam sarang ada lebih dari satu ratu maka ratu yang lain harus segera dipisahkan agar tidak dimangsa oleh ratu induknya.

Alat yang dibutuhkan adalah stup baru, pisau kikis dan alkohol 70%.  Setelah pemindahan brood dilakukan tandai pintu masuk dan beberapa ruangan di dalam stup baru dengan menempelkan propolis dari sarang induknya sebagai alat pengenal atau identifikasi koloni bagi lebah yang baru pulang dari ladang.  Selanjutnya letakkan sebagian beebread dan madu ke dalam stup baru untuk pakan sementara. Langkah terakhir pisahkan stup induk ke lokasi yang berjauhan dari lokasi asalnya agar koloni yang telah terpisah tidak bercampur kembali dalam satu sarang

Perbanyakan atau pengembangbiakan bisa dilakukan setiap tahun tetapi idealnya dilakukan 2 tahun sekali sehingga setiap 1 sampai 2 tahun jumlah koloni bertambah menjadi dua kali lipat.  Adanya efek penggandaan ini menyebabkan produktivitas lebah akan bertambah berkali lipat sesuai dengan laju pertambahan koloni.  Bahkan beberapa peternak lebih memilih usaha pembibitan daripada menjual madu dikarenakan harganya bersaing dengan harga madu dan propolis yang dihasilkan selama 1 tahun oleh setiap stup/koloni.

E.    Pemeliharaan

Pemeliharaan stup sebaiknya dilakukan secara rutin dan periodik, meliputi pembersihan dari sarang semut/ laba-laba, pengecekan kondisi stup agar terkena air hujan. Stup juga harus dihindarkan dari hama pengganggu (cecak, tokek, larva kumbang, tawon kuning, ayam dan lain-lain).

F.    Pemanenan

Pemanenan madu maupun propolis dilakukan 1-3 kali setahun tergantung kondisi lingkungan, pakan, besar kecilnya stup dan kesehatan koloni. Pemanenan umumnya dilakukan dengan cara tradisional, yaitu menggunakan pisau kikis.

Madu dan propolis yang sudah dipanen diletakan dimangkuk untuk dilakukan penirisan. Penirisan madu dilakukan agar madu tetap steril dengan tidak terlalu banyak kontak dengan tangan.

IV.    PENGELOLAAN PASCA PANEN

A.    Penurunan Kadar Air

Kualitas madu sangat dipengaruhi oleh kadar air di dalamnya. Semakin rendah kadar air dalam madu semakin tinggi kualitas madu yang bersangkutan.  Kadar air ideal dalam madu berkisar antara 19-22 %.  Untuk menurunkan kadar air menggunakan alat dehumidifier atau mesin evapotranspirator.

B.    Pengemasan

Pengemasan madu biasanya mengunakan botol kaca atau botol plastik. Kemasan sebaiknya diberikan informasi yang memadai berkaitan petunjuk penggunaan madu, kode produksi, tanggal kadaluarsa, ijin Industri Rumah Tangga dan lain-lain.

V.    ANALISA USAHA

VI.  POLA PENGEMBANGAN DI PEDESAAN

Budidaya Trigona bisa dilakukan secara individu dalam masyarakat baik di daerah perkotaan yang masih memiliki taman maupun pedesaan atau pinggiran hutan dengan pola pertanian organik yang tidak melibatkan penggunaan pestisida yang dapat mengancam kehidupan lebah Trigona.

Untuk wilayah pedesaan budidaya lebah trigona akan sangat bagus jika dikembangkan secara bersama dalam anggota masyarakat melalui kelompok tani, dimana di dalamnya setiap anggota bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman, mengadakan pelatihan bersama, mendatangkan para ahli atau penyuluh berpengalaman serta menjual produk dengan harga yang pantas.

Contoh kabupaten yang telah berhasil mengembangkan budidaya lebah trigona dengan jumlah stup lebih dari 6000 koloni adalah Kabupaten  Luwu Utara dengan kelompok tani bernama Fokup Lutra dengan ketuanya Bapak Paimin Ponijan.  Dengan dukungan dari pemerintah setempat budidaya lebah trigona di daerah tersebut berkembang dengan pesat, terutama di tiga kecamatan yang menjadi pusat budidaya lebah trigona , yaitu kecamatan Baebunta, Kecamatan Mappedeceng dan Malangke.  Kelompok tani lebah madu trigona di kecamatan Baebunta bahkan pernah masuk nominasi ajang Adhikarya Pangan Nusantara beberapa waktu lalu.

Dengan kondisi alam yang masih bersih ditambah keanekaragaman hayati yang tinggi, madu lebah Trigona Kabupaten Luwu Utara sudah diakui oleh para akademisi sebagai salah satu lebah Trigona yang terbaik di Nusantara.

Saat ini Kelompok tani di Kabupaten Luwu Utara kewalahan memenuhi permintaan madu dan raw propolis dalam negeri.  Dengan terbukanya pasar global sangat memungkinkan pembeli dari luar negeri datang ke daerah tersebut.  Tercatat beberapa pembeli dari Jepang, Filipina dan Malaysia sudah mulai menjajaki kerjasama dan membeli secara langsung ke lokasi.

Kelompok Tani Budidaya Lebah Madu Trigona di Luwu Utara, Sulsel

Dukungan Pemerintah dan instansi terkait sangat penting dalam pengembangan budidaya Trigona

VII.  PENUTUP

Potensi lebah Trigona sp jenis unggul di wilayah nusantara  cukup besar dan menjadi peluang bagi masyarakat/ kelompok tani untuk mengembangkan lebah ini untuk menggerakkan roda ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di pedesaan